Tag Posting ‘gojek’

Mengenal Masakindongs – Startup Jual-Beli Makanan Bercita Rasa Rumahan

Diposting pada 18 Nov 2019 jam 2:33pm
Bernard G Dhiko, CEO dan founder Masakindongs

Istilah Startup saat ini tidak asing terdengar ditelinga generasi milenial, banyaknya startup yang bermunculan menandakan bahwa  anak-anak muda turut ikut ambil bagian dalam memajukan industri dalam bidang teknologi . Kini startup sudah masuk dalam urusan dapur. Meskipun makanan kekinian dan cepat saji sedang populer, ternyata masakan rumahan masih memikili daya tarik tersendiri.  Sekarang ini bila ingin menikmati makanan kesukaan atau rindu masakan rumahan dapat dilakukan secara online. Cukup menginstal aplikasi, kemudian memesan makanan  yang diinginkan, lalu makanan akan dimasak dan diantarkan ke rumah Anda.

Bernard G Dhiko, founder & CEO Masakindongs.com terpikir untuk membuat startup ini karena pengalaman pribadinya. Disaat istrinya memutuskan resign dari perusahaan swasta dan memilih untuk mengasuh anak dirumah, mulai munculah ide bagaimana mengembangkan hobi masak sang istri sekaligus dapat menghasilkan uang tambahan dari rumah tanpa harus meninggalkan kewajiban sebagai  istri dan ibu bagi anaknya.

Menurut founder, yang merupakan lulusan Strata 2 di salah satu universitas di Indonesia ini, menampilkan aneka makanan nusantara dengan gaya masakan rumahan secara online, konsumen langsung dapat memilih makanan yang sesuai selera mereka. Selain itu juga dapat memenuhi  hasrat para konsumen yang “kangen” dengan favorit masakan keluarga tetapi tidak bisa mewujudkannya karena tinggalnya berjauhan. Dengan adanya sistem ini diharapkan dapat mengobati  kekangenan konsumen akan masakan rumahan tanpa harus repot, tinggal lewat satu aplikasi masakindongs.com.

Bagaimana Bisnis Model Masakindongs?

Menghubungkan antara orang-orang yang bersedia untuk memasak di dapurnya yang dalam hal ini disebut koki, dengan orang-orang yang ingin membeli makanan yang dimasak. Mereka dapat terhubung dalam satu aplikasi yang dapat diunduh, atau akses langsung melalui www.masakindongs.com

Apa bedanya aplikasi ini dengan aplikasi lain yang sudah ada?

Pada aplikasi yang sudah ada, si penjual harus melalui proses registrasi dan verifikasi yang sangat ketat, karena harus mempunyai bisnis yang benar-benar kredibel, seperti misalnya harus punya restoran, warung, kedai, atau minimal lapak di depan rumah yang memang si penjual fokus dan berprofesi sebagai penjual makanan.

Pada aplikasi masakindongs, semua orang bisa mendaftarkan diri sebagai koki dengan mudah dan gratis, dan proses jual beli dapat dilakukan dirumah tanpa harus meninggalkan kesibukan lain.

Sebagai founder, apa yang diharapkan dari aplikasi Masakindongs?

Kami menyediakan aplikasi yang gratis tanpa biaya apapun, mudah dalam proses pendaftaran, untuk membantu ekonomi keluarga-keluarga di Indonesia, serta membantu orang-orang yang rindu masakan rumahan untuk menikmati hidangan yang disediakan. Kami juga berharap dengan adanya aplikasi ini, dapat menjunjung kearifan lokal dengan melestarikan masakan-masakan daerah yang merupakan masakan warisan nusantara.

Apa persyaratan untuk menjadi koki pada aplikasi Masakindongs?

Tidak ada persyaratan khusus menjadi koki, maupun konsumen untuk mendaftarkan dirinya di aplikasi Masakindongs. Bahkan koki tidak harus punya tempat khusus, seperti ruko, restoran, warung dan sebagainya. Cukup daftarkan masakan yang mau di masak, masak dari dapur sendiri, langsung bisa jualan.

Bagaimana untuk menjaga kualitas rasa makanan dalam hal pengiriman?

Pengguna yang aktif dalam aplikasi, baik koki maupun konsumen dibatasi oleh jarak/radius. Jadi cita rasa makanan tetap terjaga dengan baik, karena pengiriman tidak boleh lebih dari jarak yang ditentukan, dan transaksi jual beli tidak boleh dilakukan ketika melebihi jarak yang ditentukan.

(EDC)

44 Calon Startup Unicorn Lokal Penerus Go-Jek

Diposting pada 05 Nov 2019 jam 2:27pm
Mantan Menkominfo Rudiantara di Indosat Ooredoo Digital Economic Briefing 2017

Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara mengungkap kandidat startup di Indonesia yang diprediksi menyandang predikat “Unicorn”. Dalam sesinya, pria yang akrab disapa Chief RA ini menyampaikan, ada 44 startup anak bangsa yang berpotensi menjadi Unicorn.

“Unicorn itu kan adalah startup yang nilainya bisa mencapai US$ 1 juta. Nah, 44 startup ini memang belum menjadi Unicorn, tetapi bisa jadi Unicorn,” ujar Chief RA.

Dijelaskan lebih lanjut, tolak ukur startup lokal yang berhak ke tingkat Unicorn pertama itu harus melewati seed capital. Chief RA mengaku, beberapa di antaranya sudah melewati serangkaian tahap pendanaan seri A dan B. Dengan demikian, startup yang sudah melewati tahap tersebut dianggap sudah memiliki pasar dan valid.

“Kalau sudah sampai tahap itu pasti sudah cukup punya potensi ke depannya. Tapi nanti mereka juga harus dikembalikan lagi sama investor. Kalau investor maunya cuma 5 atau 10, ya sudah. Uangnya kan dari investor. Tugas saya di sini itu mempresentasikannya ke investor-investor dalam negeri dan dunia,” jelas pria berkacamata ini.

Lantas, jika beberapa dari 44 startup ini terpilih menjadi startup Unicorn, rencana apa yang akan dilakukan Kemkominfo? Ia mengungkap bahwa pihaknya akan membawa startup terpilih untuk roadshow ke komunitas investor global dan dalam negeri.

Selain menggembleng startup yang sudah ‘jadi’ untuk beranjak ke tahap Unicorn, Kemkominfo juga berupaya mewujudkan misi Indonesia sebagai negara ekonomi digital pada 2020 dengan mendirikan gerakan nasional 1.000 startup digital bersama Kibar.

Program yang diinisiasi oleh Yansen Kamto, CEO Kibar, itu bertujuan melahirkan perusahaan rintisan yang berkualitas dan berdampak positif untuk penyelesaian masalah di Indonesia. Nantinya, 1.000 startup baru dari program ini diharapkan mampu memiliki valuasi bisnis pada 2020.

Program ini diharapkan dapat menjadi template pengembangan startup di Tanah Air. Bahkan, tak tertutup kemungkinan ada gerakan-gerakan serupa di masa depan. Chief RA menilai gerakan ini dapat mendorong terciptanya generasi baru yang mumpuni di bidang teknologi digital.

“Gerakan ini tak akan pernah diklaim menjadi program (Kementerian, red.) Kemkominfo, tapi merupakan upaya kerja sama dari seluruh stakeholder dalam membangun ekosistem digital di Indonesia,” ujarnya.

Program ini telah dilaksanakan secara bertahap di 10 kota pertama, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Malang, Medan, Bali, Makassar, dan Pontianak.

Tahap pertama dari program ini adalah ignition, yaitu seminar untuk menanamkan pola pikir entrepreunership dengan target 4.000 peserta. Setelah itu, 2.000 peserta yang layak akan melanjutkan ke tahap pembekalan keahlian yang disebut workshop.

Selanjutnya, 1.000 peserta akan lanjut ke tahap hackathon untuk membuat purwarupa produk. Lalu, 500 peserta akan masuk tahap bootcamp, yaitu sesi mentoring mendalam sebagai persiapan peluncuran produk. Terakhir, 200 peserta terpilih akan diinkubasi selama 3 bulan di setiap kota per tahun. Dari situ, dalam 5 tahun akan tercipta 1.000 startup.

sumber: liputan6.com

Permalink  |  Dengan Tag: , ,
Iklan

Posting Lainnya

Arsip Berita

July 2020
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031